Mengejar esok, lusa, tulat, tubin, dan seterusnya.
((sebuah cerita pendek fiksi karya @ nanajnp))
((sebuah cerita pendek fiksi karya @ nanajnp))
Suatu hari seekor ikan bertanya pada ibunya, “Bu, apa sekarang aku boleh berenang sedikit jauh dari rumah?” Ibu ikan tersenyum seraya berkata, “Jangan, belum waktunya.” Ikan itupun cemberut dan menjauh dari hadapan ibunya. Dia kembali berenang hanya di sekeliling rumahnya. Mencari makan seadanya, ya, seada yang telah disediakan oleh ibu dan ayahnya di sekitar rumah mereka.
Lalu, suatu hari, ketika ikan tadi mulai tumbuh sedikit dewasa dari usianya sebelumnya, ayahnya kemudian berkata pada si ikan, “Nak, sekarang kamu boleh berkeliling sedikit lebih jauh dari biasanya.” Si ikan tidak terlalu senang mendengarnya, ia tidak suka karena masih terselip kata "sedikit" dari perkataan ayahnya. Namun demikian, si ikan tetap memulai perjalanannya untuk berenang sedikit lebih jauh dari sekeliling rumahnya. Dalam perjalananya, sesekali si ikan berpapasan dengan ikan-ikan lain yang seumuran dengannya. Setelah gugup untuk beberapa saat, si ikan mulai menyapa dan mencoba berteman dengan ikan-ikan yang ia temui di perjalanan. Menyenangkan pikirnya. Dia sangat menikmati waktu yang dapat ia habiskan bersama mereka, ia juga mulai mencoba beberapa hal baru, seperti mencari makan sendiri, bermain permainan yang sebelumnya tidak pernah ia mainkan, serta berkenalan dengan ikan-ikan wanita.
Sejak dulu, ikan memang selalu tertarik akan hal-hal pada dunia yang belum bisa ia jejaki. Hal itu sering membuat ayah dan ibunya khawatir, karena itu, pengawasan terhadap ikan cukup ketat di rumah mereka. Namun, ayah dan ibu sadar kalau mereka tidak bisa selamanya mengekang dan mengawasi ikan secara berlebihan. Ikan harus mulai tumbuh dan belajar mengenal dunia di luar rumahnya.
Seiring berjalannya waktu, ikan masih belum memasuki usia yang dianggap cukup oleh ayah ibu untuk dibiarkan mandiri. Namun, sejak mengenal lingkungan baru, ikan yang selama ini patuh terhadap aturan ayah ibunya itupun mulai sedikit demi sedikit dilanggarnya. Sesekali tanpa sepengetahuan ayah dan ibu, ikan mulai berenang lebih jauh dari yang seharusnya. Ia bersama teman-temannya mulai berenang ke permukaan air, untuk hanya sekedar melihat langit malam, walaupun di tempat yang paling berbahaya bagi kawanan mereka.
Sementara itu, ayah dan ibu ikan terlihat khawatir karena ikan yang belum kunjung pulang sesuai jam bermain yang diberikan oleh mereka. Ikan yang memang tak pandai berbohong pun segera ketahuan oleh ayah dan ibu, ayah ikan sangat marah mendengar alasan ikan yang tidak masuk akal. Ayah ikan tak tahu saja, kalau berenang ke permukaan air hanyalah hal sepele. Ikan bahkan pernah mengekori perahu nelayan yang melintasi kota mereka. Ikan memang tidak terlalu memikirkan keselamatannya, bukan, tapi ia bahkan tidak bisa membedakan mana yang berbahaya untuk dilakukan atau tidak.
“Ikan, kamu tidak boleh melanggar aturan yang sudah ayah dan ibu tetapkan untuk kamu. Kami melakukan semuanya demi kebaikanmu. Kamu hanya belum tahu seberapa berbahayanya dunia luar jika kamu terlalu bebas seperti ini!” Ayah ikan berkata dengan tegas. Namun, ikan cemberut mendengar kata-kata ayahnya. Dia kesal karena dimarahi atas alasan yang tidak masuk akal menurutnya. Ikan yang mulai merasa dewasa padahal belum itupun nekat memberontak. Ia pergi meninggalkan rumah, dia hanya marah tanpa berpikir panjang. Ia tidak tahu konsekuensi atas perbuatannya itu. Ikan merasa dirinya sudah dewasa walaupun faktanya dia hanya anak remaja (-menuju dewasa) yang harusnya masih dalam proses perkembangan dan belum bisa berdiri sendiri. Ia masih harus dibekali dengan banyak hal. Kedua orang tua ikan hanya masih ingin memanjakkannya, tak heran karena ikan adalah anak satu-satunya yang mereka miliki. Namun, karena dibutakan oleh amarah serta kerasnya pendirian ikan, ia tetap memilih pergi tanpa berpikir dua kali. Meninggalkan ayah dan ibu sadar kalau mereka tidak bisa menghentikan ikan.
Ikan kemudian memulai kehidupannya sendiri, dengan awalan yang kurang bagus, kabur dari rumah. Dia berpindah-pindah kota sambil mencari pekerjaan yang bisa membiayai hidupnya. Sampai akhirnya, ikan berhenti di suatu kota yang sangat jauh dari kota lamanya. Dia memang memilih kota terjauh agar kecil kemungkinan untuk ayah dan ibunya dapat menemukannya. Dia pun senang, bahagia, dan merasa bangga. Ia bangga karena merasa sudah berhasil kabur dan dia berpikir bahwa tidak akan pernah ada lagi yang akan memarahinya. Dia juga sudah mendapatkan pekerjaan disana. Ikan tidak masalah dengan pekerjaannya yang hanya seekor buruh pabrik makanan. Hari-harinya kemudian diisi dengan kesibukannya bekerja dan bersosialisasi di lingkungan baru.
Tak terasa waktu kemudian berlalu begitu cepat, tanpa ia sadari, ia sudah tinggal selama tujuh tahun di kota tersebut tanpa pernah sekalipun mencari tau kabar kedua orang tuanya. Sebenarnya, pada tahun ke empat ikan tinggal disini, dia mulai lelah dengan kesehariannya, ia rindu akan suasana rumah, serta ibu dan ayahnya. Namun ikan dengan egonya yang sangat besar, tetap tidak ingin mengalah dan kembali ke kota lamanya. Akhirnya tahun-tahun kemudian dilalui dengan cukup berat, ikan mulai sering bermalas-malasan sampai akhirnya kehilangan pekerjaan satu-satunya yang dapat menjadi tumpuannya untuk bertahan. Ikan mulai putus asa, ia sering kali mengenang saat-saat dimana semuanya sudah tersedia. Ia rindu masa dimana ia tak perlu bersusah payah untuk hanya sekadar mendapatkan makanan sehari-hari, saat semuanya masih disediakan oleh ibu dan ayahnya. Dia rindu ibu dan ayahnya. Dia juga rindu diperlakukan layaknya seorang anak kecil yang tidak perlu memikirkan urusan dunia.
Ikan kemudian memutuskan untuk kembali ke kota lamanya, menemui kedua orang tuanya dan meminta maaf atas sikap yang kini disesalinya. Itulah satu-satunya tujuan ikan saat ini. Namun, saat kemudian ikan kembali, ia menemukan rumahnya yang terlihat tak terurus, serta sepi. Ia bertanya-tanya kemanakah ibu dan ayahnya. Ikan sampai di kota itu memang terbilang masih cukup fajar, rumah-rumah ikan lain yang dulunya adalah tetangga bermain ikan pun masih menyalakan lampu dari dalam, menandakan kalau mereka masih menghangatkan diri di dalam rumah. Ikan mencoba mengetuk pintu rumahnya, sambil sesekali memandangi pekarangan tempat ia biasa bermain dulu. Dari balik pintu, muncul bayangan orang tuanya yang sedang berjalan menghampirinya. Ikan sangat senang dan berusaha menghampiri mereka duluan.
Namun ketika jarak antara dirinya dengan orang tuanya semakin kecil, ia terperangah, ia melihat ibu dan ayahnya yang sudah sangat tua. Ikan kemudian menangis sambil memeluk kedua orang tuanya itu. Dia menyesali waktu-waktu yang dia sia-siakan bersama mereka. Kini, bukan ikan lagi yang membutuhkan mereka, tetapi ibu dan ayahnyalah yang lebih membutuhkan ikan. Membutuhkan dia yang sudah lama pergi. Padahal dulu, masih banyak waktu yang bisa ia gunakan untuk bermanja, tapi ikan memilih untuk 'memulai' semuanya dengan lebih cepat, sekarang ikan hanya bisa menyesali perbuatannya itu.
Ibu dan ayahnya kini sudah mengalami penurunan fungsi kongnitif yang membuat mereka bertingkah seperti anak kecil, sehingga peran mereka dahulu harus digantikan oleh anaknya. Mengasuh, mengawasi, menjaga, serta merawat mereka tanpa pamrih. Ikan menangis terisak melihat tingkah ayahnya yang dia intip di luar pintu rumah, "Dulu, aku yang biasanya bertingkah seperti itu, kenapa sekarang ayah yang begitu..." batinnya sambil memperhatikan ayahnya yang terlihat senang dengan hanya berenang mengelilingi sekeliling rumah, terlihat bingung karena tidak sadar akan apa yang sedang dilakukannya. Ibu ikan pun begitu, beliau hanya memakan makanan yang tadi disediakan ikan, tanpa bisa mencarinya sendiri, persis seperti yang ikan lakukan dahulu.
Selesai.
Komentar
Posting Komentar